Pada dasarnya setiap orang didunia ini
tidak ada yang suka bila dibohongi, namun kenyataannya adalah mereka sendiri
juga adalah seorang pembohong, bahkan aku sendiripun tak ada bedanya dengan
mereka. Setiap kali aku bangun di pagi hari, yang kutemukan disekelilingku
penuh dengan omong kosong, semua yang aku lihat dan dengar tak lebih dari
sekedar bualan basa-basi tak punya arti, tak juga punya makna, kecuali
kemunafikan semata.
Pagi itu aku duduk diam membisu didalam
kamar dengan memandang keluar rumah dari
sebuah dinding kaca berbentuk persegi panjang sambil aku mereguk secangkir kopi
hitam. Tiba-tiba seorang badut muncul dihadapanku, dengan memelas ia memohon
dengan penuh harap dan mengeluh ingin menikmati kopi itu dan menghisap rokokku.
Entah sejak kapan aku berkenalan
dengannya, kemanapun aku pergi ia selalu mengikuti jejakku, berbisik
ditelingaku dan menggelitik emosi otakku. Ketika aku berusaha mengenyahkannya
dari diriku, ia justru tertawa senang dan berlari ketengah-tengah kesunyian
meninggalkan kata-kata tanpa arti. Aku benar-benar jemu hidup bersamanya,
betapa tidak? Bualan-bualannya seringkali menusuk-nusuk jiwaku sampai membuatku
muak karenanya.
Kemanapun aku pergi ia selalu berhasil
menemukanku, ketika aku pergi bekerja si badut itu sudah duduk dimeja kerjaku,
ketika aku pergi ke pusat perbelanjaan ia selalu ada di tiap-tiap pintu toko
yang akan kumasuki. Ketika aku duduk bersama kawan si badut itu selalu ikut
duduk bersama kami, ketika aku sedang berkumpul bersama keluargaku, ia selalu
duduk diantara ayah dan ibuku, bahkan ketika aku pergi bersama kekasihku pun ia
selalu menjadi orang ketiga dalam hubungan kami. Namun begitu setiap kali aku
menjahuinya dia tetap bersi keras untuk berdekap denganku bahkan sampai gema
suaranya memedihkan dan menusuk telingaku bahkan tidak jarang membuat perutku
sakit bagaikan aku baru saja memakan daging busuk.
Ingin sekali aku pergi jauh darinya,
namun kemanapun aku pergi ia selalu berhasil menemukanku. Masihkah ada tempat
bernaung yang nyaman di atas jagat raya ini dimana aku bisa pergi dan hidup
bahagia seorang diri? Adakah sedikit kelonggaran kebisuan padaku sehingga aku
dapat sedikit bermurah hati pada jiwaku untuk merasakan surga kesunyian? Masih
adakah dihamparan tanah ini orang-orang yang tidak menyembah kemunafikan dan
kebohongan dari mulutnya bahkan menjadikan bualan sebagai bisnis? Masihkah ada
orang-orang yang memiliki mulut yang tidak berlindung dan tidak bersembunyi
dibelakang dibalik topeng itu?
Ketika malam tiba, si badut selalu mengakrabi
keheningan malam dengan bunyi dan nyanyiannya yang mengerikan bagai hantu-hantu
malam. Mereka beterbangan menyelimuti kepala kita dan membuat kegaduhan yang
amat sangat menjemukan sekali, penuh dengan prasangka kedengkian, dan iri hati.
Semakin hari aku semakin jengkel dan
muak dengan tingkah lakunya, kesabaranku mulai mencapai batasnya. “Bila aku tak
bisa pergi darinya, maka akan kubuat ia pergi dariku” kataku dalam diri.
Malam pun tiba, dan seperti pada
malam-malam sebelumnya, si badut kembali datang. Namun belum sempat ia berkata
apa-apa aku langsung mengusirnya pergi dari kehidupanku, sambil berkata, “bila
kau tak mau pergi, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!” Akan
tetapi mendengar ancamanku tersebut justru membuatnya semakin senang,
tertawanya benar-benar memekakkan gendang telinga, menggema dalam tiap sudut
ruangan dalam otakku, memecah keheningan malam dan membuat jiwaku menggigil
ngeri.
Setelah puas tertawa kemudian ia
berkata, “ Wahai saudaraku, mengapa engkau begitu membenciku? Sehingga engkau
begitu ingin mengusirku dan apakah salahku padamu? Bukankah aku selalu
menemanimu setiap waktu? Dikala dirimu sedih aku datang dan menghiburmu, dikala
dirimu bahagia aku datang untuk menambah kebagaiaanmu, dikala dirimu terpuruk
dan tak ada seorangpun yang membantumu aku datang menyemangatimu, bahkan dikala
dirimu senang aku juga datang untuk menambah kebahagiaanmu. Wahai saudaraku
tidak ingatkah engkau dengan semua itu? Akulah sahabat sejatimu, dan hanya
akulah sahabat yang benar-benar memahamimu. Kemarilah wahai saudaraku, aku tahu
bahwa engkau tak benar-benar membenciku apalagi sampai hati ingin mengusirku,
kau hanya sedang bingung, kemari dan terimalah aku maka aku akan membantumu”
Aku pun mencela, “tidak! Semua yang kau tawarkan dan kau berikan selama ini
hanyalah kepalsuan-kepalsuan yang kau ciptakan. Dan aku bosan dengan semua
kepalsuan-kepalsuan atas kebohongan-kebohongan yang kau buat!”
“Saudaraku, tanyakanlah pada dirimu
sendiri, adakah orang diluar sana yang lebih mengerti dan memahamimu selain
aku? Adakah orang diluar sana yang mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk
mendengarkan semua keluhan-keluhanmu selain aku? Tanyakanlah pada dirimu
sendiri wahai saudaraku.” Ujar si badut mencoba meyakinkanku. Dengan penuh kebingungan
aku berkata, “bagaimana mungkin aku dapat mempercayai seseorang yang bahkan
menyembunyikan wajahnya dibalik sebuah topeng?” si badut terdiam sejenak lalu
berkata, “apa kau yakin ingin melihat wajahku yang sesungguhnya?” aku menjawab
dengan sebuah anggukkan tanpa kata-kata, dia ia pun berkata, “Baiklah bila itu
keinginanmu, maka akan kutunjukkan wajahku yang sesungguhnya padamu” si badut
kemudian melepas topeng kayu yang selama ini menempel di wajahnya. Cahaya sang
rembulan yang menerobos masuk kedalam ruangan dari dinding-dinding kaca persegi
menyinari sebagian wajah, leher, dan lengannya. Aku benar-benar terkejut ketika
topeng tersebut benar-benar terlepas dari wajahnya. Wajah itu penuh dengan luka
yang membusuk dengan beberapa ulat-ulat kecil menggerogotinya, aroma busuk dan
anyir tercium seolah menusuk-nusuk perut memaksaku untuk mengeluarkan semua
yang ada didalamnya. Namun yang justru membuatku semakin terkejut adalah dari
bagian wajah yang tidak membusuk aku mengenali siapa pemilik wajah itu. Ya
memang tidak salah lagi, itu adalah wajahku sendiri.
“Inilah
wajahku yang sesungguhnya wahai saudaraku, mengapa engkau begitu kaget dan
heran? Bukankah ini yang kau inginkan?” kata si badut dengan pandangan memelas
seolah sebuah beban yang sangat berat sedang dipikulnya. Setelah diam sejenak,
iapun kembali melanjutkan, “Bukankah aku tadi mengatakan bahwa tidak ada yang
lebih mengerti dan memahamimu selain aku? Inilah maksudku aku adalah kau, dan
kau adalah aku. Karena aku adalah bagian dari dirimu, kaulah yang
menciptakanku, dan kau juga yang mewujudkan eksistensiku didunia ini ada.” Ketika
aku memandangnya seperti orang kebingungan, sedang sebuah senyum kematian yang
hambar kurasakan meluncur dari bibirku ketika aku mulai mengerti dengan apa
yang ia katakan.
Selama ini aku membenci para pembohong
karena bualan-bualan mereka yang menusuk jiwaku sering kali membuatku muak.
Namun kini aku menyadari bahwa aku juga adalah salah satu dari mereka para
pembohong itu. Bukankah Tuhan hanya menciptakan kita satu wajah, namun justru
kita sendirilah yang menciptakan topeng-topeng untuk menutupinya. Tentu saja,
topeng yang melekat terlalu lama akan mengakibatkan wajah kita membusuk, dan
ketika topeng itu terlepas kita akan sulit untuk mengenali wajah kita yang
sesungguhnya.
Arisu Sora
Tidak ada komentar:
Posting Komentar