Edelweiss, salah
satu bunga yang tidak asing ditelinga para pecinta. Salah satu bunga yang
sering menjadi perlambangan dari sebuah kisah cinta yang abadi. Ada sebuah
mitos yang begitu terkenal dan berkembang dimasyarakat umum, bahwa siapapun
yang memberikan bunga edelweiss ini pada kekasihnya maka hubungan mereka akan
bertahan hingga sang maut memisahkan. Terlepas benar atau tidaknya, namun
banyak sekali para pecinta yang rela mendaki gunung atau tebing-tebing curam
demi untuk mendapatkan setangkai bunga yang memiliki kelopak bagai bintang-bintang dilangit
ini. Sebenarnya edelweiss
tidak ada bedanya dengan bunga-bunga pada umumnya, tapi karena makna filosofis
yang kental pada bunga ini menjadikannya istimewa. Beberapa diantaranya adalah
karena edelweiss dapat tumbuh dengan indah diatas medan tanah dengan unsur hara
yang sedikit, tandus, udara yang minim dan terbilang ekstrem. Karena itulah
edelweiss mendapatkan gelarnya sebagai bunga abadi. Disatu sisi untuk
mendapatkan edelweiss yang indah kita harus rela untuk mendaki bukit yang
tinggi nan curam karena disanalah letak edelweiss yang indah biasa tumbuh. Maka
bunga ini tentu akan menjadi hadiah terindah bagi para pecinta pada kekasihnya,
karena untuk mendapatkannya tidaklah mudah.
Aku pernah
mendengar sebuah kisah tentang edelweiss yang kudengar dari teman dari temannya
temanku. Ini kisah tentang edelweiss dan langit. Maka diam dan dengarkanlah
ceritaku baik-baik saudaraku.
***
Alkisah disuatu
gunung tertinggi dipulau ini tumbuh sekuntum bunga edelweiss. Sejak ia
dilahirkan didunia ini, edelweiss kecil senang sekali memandang kepada langit.
Edelweiss begitu mengaguminya, karena setiap detik langit tak pernah berhenti
menampakkan keindahannya. Sang waktu begitu cepat berlalu, edelweiss kecil kini
telah dewasa, sebuah mahkota bunga berwarna putih berada dikepalanya. Bagaikan
seorang putri nan jelita dimana sebuah mahkota menambah kecantikannya.
Suatu hari seekor lebah madu datang
kepadanya dan berkata, “Alangkah cantiknya dirimu wahai mahkluk Tuhan!”. Namun
edelweiss tak menghiraukan sanjungan sang lebah ia tetap memandang kepada sang
langit. “Wahai sang putri izinkanlah aku untuk menghisap sedikit madumu”. Mendengar kata-kata itu
edelweiss menatap lebah itu dengan tajam dan berkata,
“Mengapa aku harus memberikan maduku padamu?” sang lebah kemudian menjawab, “Engkau begitu cantik, tentulah madumu pasti
semanis kecantikanmu, maka izinkanlah aku untuk merasakannya walaupun hanya seteguk.”
Mendengar jawaban sang lebah edelweiss lalu berkata,
“Pergilah, karena yang kau puja hanyalah
kecantikan yang hanya terlihat oleh mata,
bila kuizinkan engkau mencicipi maduku dan ternyata rasanya tak semanis
harapanmu maka kau akan meludahkannya kembali dan meninggalkanku begitu saja, kini pergi dan carilah
bunga lain.” Mendengar
jawaban edelweiss, sang lebah-pun pergi meninggalkan edelweiss dengan kesal.
Selang beberapa
hari, datang seekor burung kolibri padanya. Burung itu berputar-putar
disekeliling edelweiss, mengamati tiap lekuk indah tubuh edelweiss. Edelweiss
yang awalnya acuh pada sang burung mulai risih dan bertanya, “apa yang kau
lihat? mengapa engkau hanya berputar-putar
mengelilingiku?” sang kolibri-pun menjawab, “Sungguh betapa indahnya dirimu,
setiap lekuk daun dan batangmu benar-benar telah memikatku” mendengar jawaban
sang kolibri edelweiss kembali bertanya padanya. “jadi apa yang kau inginkan dariku?”, “Aku ingin meminangmu!” jawab sang kolibri. “Maaf,
tapi aku tidak bisa menerima pinanganmu” jawab edelweiss sopan. Mendengar jawaban
edelweiss kolibri-pun bertanya tentang alasan mengapa
pinangannya ditolak.
Dengan memandang kepada langit,
edelweiss menjawab pertanyaan sang kolibri, “Sungguh jiwaku telah terpaut
padanya, aku selalu mengaguminya sejak hari pertama aku melihatnya. Memandangnya,
memperhatikannya tiap detik, tiap waktu hingga tanpa
kusadarai ia telah membawa jiwaku terbang bersamanya. Aku yang berada
dihadapanmu ini hanyalah setangkai bunga tanpa jiwa. Keindahan yang kau lihat
dihadapanmu saat ini hanyalah keindahan semu” Penjelasan edelweiss benar-benar telah melumpuhkan
kedua sayap sang kolibri, bagai peluru yang meluncur dari senapan para pemburu
tepat mengenai kedua sayapnya. “Sebelum aku pergi, izinkanlah aku untuk
mengetahui siapakah ia yang telah beruntung itu?” tanya sang kolibri lemas.
“Apakah engkau begitu ingin mengetahuinya?” tanya edelweiss sekali lagi.
“Setidaknya mengetahui siapa ia yang telah mampu mengambil jiwamu terbang
bersamanya dapat sedikit mengobati kekecewaanku” jawab sikolibri. Melihat
kekecewaan sang kolibri edelweiss menjadi tak tega, kemudian ia alihkan
pandangannya kepada langit dan menjawab, “dia, yang telah membawa jiwaku
terbang bersamanya”. “Sang langit? bagaimana mungkin? Selamanya langit dan bumi
tidak akan pernah bisa bersatu!” tanya sang kolibri yang terkejut mendengar
jawaban edelweiss tersebut. “Memang benar, langit dan bumi mungkin takkan pernah bisa bersatu, dalam wujud
semu ini mungkin kami tak mungkin bisa bersatu, namun jiwa-jiwa kami telah
melampaui batasan-batasan itu. Karena tubuh adalah rumah bagi jiwa, maka aku yang berada dihadapanmu ini hanyalah sebuah
rumah kosong yang telah ditinggalkan sang pemiliknya, rumah tanpa pemiliknya,
apa yang akan kau dapat dari rumah itu?” Kata edelweiss menjawab protes sang
kolibri, “Pergilah, aku yakin diluar
sana masih banyak bunga-bunga yang mau menerima pinanganmu” edelweiss
melanjutkan. Tanpa berkata-kata burung kolibri itupun pergi meninggalkan tempat
itu dengan kecewa.
Malam
menjelang, permadani hitam terhampar dilangit, sunyi menyelimuti jiwa-jiwa yang
terlelap karena lelah. Namun tidak bagi edelweiss, ia masih tetap terjaga,
jiwanya tak pernah lelah memandang sang langit. Yah, seperti itulah cinta, ia
akan menukar segala kesenangan dengan derita dan menukar derita menjadi
kebahagiaan. Jiwa yang sedang dimabuk cinta ia takkan pernah merasa lelah
ataupun bosan terhadap yang dicinta. Ditengah keheningan malam inilah waktu
yang paling ditunggu oleh edelweiss, karena pada saat inilah ia dapat berbicara
dengan sang langit tanpa ada seorangpun yang akan mengganggunya.
“O, langit, bolehkah aku
bertanya sesuatu padamu?” tanya edelweiss.
“Tentu saja kekasihku, apa
yang ingin kau tanyakan?” jawab sang langit.
“O, langit, rumah jiwaku kini
mulai merapuh, tiap detik yang berlalu bagai rayap-rayap yang menggerogoti
rumahku sedikit demi sedikit sehingga merapuhkan setiap pondasinya.” Kemudian
ia melanjutkan kata-katanya, “O, langit, sungguh aku ingin selalu bersamamu
untuk selamanya, namun penjara jiwa ini benar-benar merepotkanku, ia seolah
ingin memisahkanku denganmu”
Langit terdiam sejenak
seolah sedang menarik nafas dan berkata,“O, edelweiss, kekasihku, sungguh aku
pun demikian, ingin selalu bersamamu. O, edelweiss, kekasihku, kita semua tahu
bahwa setiap mahkluk pasti akan merasakan kematian tanpa terkecuali maut itu
sendiri, karena mahkluk tetaplah mahkluk mereka diciptakan dan ada yang
menciptakan, dan hanya Sang Pencipta seluruh mahkluklah yang tidak akan merasakan kematian.”
“O, langit, tentu aku tahu
akan hal itu dan aku sama sekali tak meragukan-Nya. Akan tetapi beberapa hari
ini ketenangan jiwaku tiba-tiba terusik oleh sebuah pertanyaan yang tak dapat
kujawab, dan itu benar-benar membuat hatiku gelisah”
“pertanyaan apa itu wahai
kekasihku, mungkin aku bisa membantumu?” tanya langit.
“O, langit, kelak bila tiba
saat dimana jiwa ini harus meninggalkan rumahnya, kemanakah jiwa ini kan
menuju? Apakah aku masih bisa bersamamu walaupun jiwaku tak lagi memiliki wadahnya?”
Mendengar pertanyaan
edelweiss sang langit kembali diam untuk sejenak, seolah dia sedang memilih
jutaan kata dan merangkainya sehingga edelweiss dapat mengerti penjelasannya
dengan mudah, “Wahai, edelweiss kekasihku, jiwa yang telah terlepas dari raganya
mereka akan pergi keujung cakrawala untuk bertemu dengan Penciptanya. Jawaban
kedua, tentu kita masih bisa bersama, namun bila kau melakukannya itu hanya
akan menunda pertemuanmu dengan Sang Pencipta, bukankah kebahagiaan tertinggi
sebagai mahkluk adalah bertemu dengan yang menciptakannya?”
Edelweiss terdiam sejenak
lalu bertanya, “Tidak bisakah kita menemui-Nya bersama-sama?”
“Wahai, edelweiss kekasihku,
dengarlah baik-baik, Sang Pencipta menciptakanku sejak awal dunia dan kelak
akan mematikanku pada akhir dunia pula, dan kita tidak mengetahui kapan hari
itu akan tiba.” jawab langit kemudian melanjutkan “karenanya ketika panggilan
mulya itu tiba, maka penuhilah panggilan itu dengan senyum kebahagiaan”
“Tidak, aku akan menemanimu
hingga akhir dunia ini, sekalipun jiwaku tak lagi memiliki wadah aku akan tetap
bersamamu” kata edelweiss memaksa
“O, edelweiss kekasihku, aku
sangat senang mendengarnya, akan tetapi ketahuilah bahwa ini adalah dunia
materi, materi tidak akan abadi. Sedangkan jiwa itu halus, sekalipun jiwamu
menemaniku disini, namun aku takkan mampu mendengar suaramu ataupun melihatmu,
karena jiwa terlalu halus bagi materi. Maka, bila kau tetap berada disini
bersamaku akan sia-sia bagimu”
Mendengar kata-kata sang
langit edelweiss hanya terdiam, seolah ada sesuatu yang mengganjal
tenggorokannya. Kemudian dengan suara berat ia berkata, “baiklah, ketika hari
itu tiba, aku akan pergi dan menunggumu diujung cakrawala”
Mendengar kata-kata edelweiss
langit kemudian tersenyum dan berkata, “ya, aku akan menemuimu diujung
cakrawala, tunggulah aku hingga saat itu tiba”
***
Beberapa
hari kemudian jiwa edelweiss pergi meninggalkan rumahnya untuk menuju ke ujung
cakrawala, dan ia menunggu sang langit disana sesuai janji mereka. Wahai
saudaraku, itulah satu dari sekian banyak cerita tentang bunga yang sarat akan
nilai filosofis kehidupan. Saudaraku, bila kau memiliki kisah lain tentang
bunga ini, ceritakanlah padaku, aku akan sangat senang mendengarkannya.
Arisu Sora
Selasa, 24 februari 2015

1 komentar:
ceritanya lumayan bagus,75 deh dariku min :)
Posting Komentar